"Kalau gue menghabiskan makanan di piring saat kencan di restoran, komentarnya apa ya?", "Memang sih dia cuma ngajak joging, tapi gue perlu dandan supaya kulit tidak terlihat kusam", atau "Duh, gue gak sempat ke salon, padahal nanti malam gue diundang makan malam bersama keluarganya".
Ngerasa familiar dengan kalimat di atas ? Ya! you are not alone. Ketika kita baru mulai berpacaran dengan pria yang sudah lama kita idamkan, segalanya pasti berubah. Bahagia karena berhasil membuat si dia berletuk lutut sekaligus sibuk menjaga biar segala sesuatu terlihat SEMPURNA di depannya. Sebenarnya "kerepotan" tadi asalnya dari ketakutan kita sendiri. Ketakutan akan kehilangan pacar membuat kita jadi terobsesi untuk menjadi Miss/Mr Perfect, padahal seorang Nicole Kidman pun memiliki kekurangan. Ga sedikit lho wanita yang dihantui ketakutan. Rasa bahagia karena memiliki kekasih bercampur dengan rasa tidak aman, takut hubungan yang baru terjalin akhirnya gagal… ck..ck…ck…
Sayangnya, perasaan takut ini sering mendominasi dan membuat kita jadi ga rasional. Takut terlihat ga feminin kalo ngabisin pesanan di piring alias jaim trus memilih kelaparan =D. Diet mati-matian karena takut diputusin pacar kalau berat badannya bertambah. Bahkan ada yang rela operasi plastik karena kekasihnya mengaku senang dengan wanita berdada besar !#%^&*)&^%#. Padahal, kalo kita mau kita bisa aja lho hentiin ketakutan tadi. Lagipula, pasangan kita juga manusia yang pasti memiliki banyak kekurangan, bener khan? "pacar juga manusia…"
Menurut Susanne Lopez, seorang terapis, wanita sering meneliti kekurangannya sendiri dan menyebutnya sebagai "cacat", sebaliknya, pria sedikit mencari "cacatnya" sendiri. Cowo sering tidak memperhatikan hal-hal kecil, misalnya tidurnya mendengkur atau rambutnya sudah melebihi telinga. Dan sebenarnya "cacat" yang sering dimasalahkan oleh wanita, juga tidak diperhatikannya. Perasaannya tidak akan berubah hanya karena berat badan Anda naik satu-dua kilo, koq. Jadi, seharusnya bagaimana agar hubungan yang baru ini berjalan mulus ? We’ll see about that !
Pada awal masa berpacaran, lo bisa mengenal karakter si dia lewat tingkah lakunya. Coba pikirin deh apakah selama ini lo keberatan dengan kebiasaan-kebiasaannya. Singkatnya, cobalah untuk melihat dari "kacamatanya". Sehingga lo bisa tahu apa yang disukai dan tidak disukainya. Rasa tidak aman timbul dari ketakutan akan ditolak dan disingkirkan. Bukannya belajar memahami kegelisahan dan takut, kita malah terobsesi untuk menjadi Miss/Mr Perfect dan yakin bisa mengikat pasangan dengan hal itu. Kita merasa dengan makan sedikit dan bersikap feminin or bersikap macho di depannya, kita bisa mengambil hatinya. Agar rasa takut tadi bisa disingkarkan dengan cepat, lo bisa mencoba tips berikut :
Buatlah dalam buku catatan lo tiga kolom yang berisi Perasaan, Ketakutan dan Kenyataan. Misalnya, Perasaan : gue merasa kegemukan ; Ketakutan : gue takut terlihat jelek ; Kenyataan : Kami telah berpacaran 3 bulan. Ia tak pernah lupa menelepon setiap hari dan memuji tubuh gue bagus. Dengan melihat kenyataan yang ada, kita bisa mengikis rasa takut tadi dan mengubahnya menjadi tindakan positif. (feelin better?)
Cowo sebenarnya juga ingin pasangannya menjadi dirinya sendiri. Jadi ga perlu ditutupi kalau kita sedang lapar dan ingin makanan berat, tak perlu malu kalau tidur lo mendengkur dan ga perlu merasa dunia kiamat kalau ga sengaja lo kentut saat bersamanya, hehehe… Jangan sampai hidup lo jadi terintimidasi oleh keinginan untuk selalu tampil sempurna. Dan jika si dia tidak bisa menerima kebiasaan atau "cacat" kecil yang membuat ‘kita’ adalah ‘kita’, maka yakin aja deh kalo banyak cowo baik lain di luar sana yang pasti bisa melakukannya. Percayalah kalau lo bisa mengatakan,
" Inilah gue, terimalah apa adanya"
how about that?